Rocky Gerung : “Debat Ilmiah itu di Universitas, Bukan di TV.”

JAKARTA – Rencana debat ilmiah terbuka antara Master HAM, Zainal Arifin Mochtar dan Menteri HAM, Natalius Pigai dinilai Profesor Akal Sehat, Rocky Gerung sebagai langkah yang tidak tepat. Menurut Bung Rocky, rencana tersebut lebih berpotensi menimbulkan sensasi daripada substansi.
Natalius Pigai dan Zainal Arifin Mochtar adalah sama-sama memiliki kapasitas dan pemahaman mendalam soal hak asasi manusia (HAM).

Zainal, yang akrab disapa Uceng, dinilai memahami aspek substansi hingga filosofis HAM.
Sementara Pigai terlibat langsung dalam perumusan regulasi untuk memastikan penghormatan terhadap HAM.
“Jadi, saya ingin ini dihindari, dihalangi saja, dibatalkan. Sensasinya akan lebih tinggi dari sekadar substansi,” ujarnya.

Rocky khawatir format debat terbuka di televisi justru membangun persepsi keliru seolah-olah prinsip HAM ditentukan oleh siapa yang menang dalam adu argumen.
Rocky menegaskan, secara prinsipil, HAM tidak perlu diperdebatkan dalam format menang-kalah karena sifatnya sudah universal dan melekat pada manusia.

“HAM itu sudah final. Dia sifatnya universal. Dia datang dari nature manusia untuk saling merawat kemerdekaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan potensi munculnya “pihak ketiga” yang bisa memanfaatkan kegaduhan publik untuk kepentingan politik tertentu.
Diskursus HAM tetap penting dilakukan. Namun, ia menekankan perlunya membedakan antara perdebatan kebijakan dan perdebatan filosofis.

Ruang televisi bukan tempat yang tepat untuk membedah fondasi intelektual HAM secara mendalam.
“Kalau mau debat habis-habisan, datang ke universitas. Di situ ada stok pengetahuan yang bisa diuji maksimal,” tegasnya.
Perdebatan seharusnya berada pada aspek prioritas dan teknis kebijakan, bukan mempertanyakan prinsip HAM.
“Kita harus mengotot supaya hak asasi manusia itu jadi grammar di semua institusi,” pungkasnya.
Jurnalis : Raja Aprilia
Editor : Gusti Karlina

